RSS Feed

I. PENDUDUK, MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

Bicara tentang masyarakat, sebenarnya saya sendiri belum lama pindah ke Citayam yang masih sodaranya Depok😛 . Kira-kira sudah 2 tahun saya menetap di Citayam, mada mada dane? Jadi, bisa dibilang saya sendiri belum begitu dekat dengan masyarakat di sini dan kebudayaan-kebudayaan yang ada. Tapi, 2 tahun ini tidak terlewat begitu saja. Yang sering saya dengar, masyarakat di lingkungan saya mayoritas Islam, jadi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan sering kali merayakan hari-hari besar keagaaman dengan meriah.

Kebudayaan Islam merupakan suatu sistem yang memiliki sifat-sifat ideal,
sempurna, praktis, aktual, diakui keberadaannya dan senantiasa diekspresikan.
Sistem yang ideal berdasarkan pada hal-hal yang biasa terjadi dan berkaitan
dengan yang aktual (Picktchall, 1993: 26-29). Sistem Islam menerapkan dan
menjanjikan perdamaian dan stabilitas dimanapun manusia berada, karena pada
hakikatnya manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT,
yang berbeda justru hanya terletak pada unsur-unsur keimanan dan ketakwaannya
saja.
Perkembangan kebudayaan Islam membutuhkan petunjuk wahyu berupa
firman-firman Allah SWT yang terdapat di dalam Al Qur’an, dan diperlukan
seorang pemimpin umat yaitu Rasulullah saw, serta bertujuan hanya untuk
beribadah kepada Allah semata-mata.
Islam dalam hal ini, bermanfaat untuk memberikan petunjuk kepada
manusia dalam upaya agar dapat menumbuhkembangkan akal budi, sehingga
memperoleh kebudayaan yang memenuhi aturan-aturan dan norma-norma agama.
Perkembangan kebudayaan yang didasari dengan nilai-nilai keagamaan;
agama memiliki fungsi yang demikian jelas. Maju dan mundurnya kehidupan
umat manusia itu, mengalami kemandegan, hal ini disebabkan adanya hal-hal
yang terbatas, dalam memecahkan berbagai macam persoalan dalam hidup dan
kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu petunjuk berupa wahyu Allah SWT
(Diskusi Kelompok Lokakarya MPK UGM, 2003: 36-37).
Allah SWT memilih seorang Nabi dan Rasul dari manusia, sebab yang akan
menjadi bimbingannya adalah manusia juga, oleh karena itu tujuan utama misi
Muhammad Rasulullah saw adalah menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.

——

Berikut ini, saya akan coba mengeluarkan sepatah-dua patah kata untuk menggambarkan masyarakat di lingkungan saya.

Kebudayaan Islam berdasarkan pada beberapa prinsip:
1. Tuhan dalam Islam hanya Allah saja, maka semua perintah Allah
diperlakukan bagi seluruh manusia dimanapun mereka berada, hal tersebut
melingkupi seluruh manusia baik sebagai subjek (melaksanakan perintah-perintah
Allah) dan juga sebagai objek (semua perintah Allah dilaksanakan
manusia). Sebelum adanya Islam, umat manusia hidup secara berkelompok,
hal ini berlandaskan pada ras atau budaya bahkan keduanya. Islam memberi
fondamen baru bagi kelompok-kelompok tersebut, yaitu yang dikenal dengan
ummah. Ummah adalah suatu kesepakatan yang meliputi beberapa hal yaitu wawasan, kehendak dan perbuatan secara bersama-sama yang dilakukan oleh
umat Islam.
Persaudaraan universal yang disebabkan oleh tauhid (mengesakan Allah
dan meyakini bahwa Rasulullah saw adalah utusan Allah) memerlukan suatu
formasi baru, sebab umat Islam adalah suatu masyarakat baru yang
dikelompokkan bukan berlandaskan pada suku atau ras, namun pada agama,
maka bagi orang-orang nonmuslim diharapkan dapat membuka diri dengan
cara menghindari garis keturunan dan kesukuan serta melaksanakan
koordinasi yang berlandaskan agama. Agama bukan memberikan gambaran
keterbelakangan dan prinsip pengorganisasian yang statis, banyak
purbasangka, dipenuhi hal-hal yang eksklusif, seperti yang dibayangkan oleh
orang-orang barat. Agama mewujudkan segi kehidupan manusia yang
terpenting di dunia karena mengarah kepada tujuan tertinggi yang dapat
diraih oleh manusia (Al Faruqi, 1988: 190).

Sebagai orang Muslim, ikatan persaudaraan itu sangat penting. Silaturahmi tetap harus dijaga setiap hari, tidak hanya di hari-hari besar seperti lebaran day. Karena negara kita, Indonesia, terdiri dari berbagai macam suku atau ras, mungkin agak sulit menyatukan mereka karena mereka memiliki kebiasaan dari budaya mereka masing masing. Namun, di sini mereka mencoba membuat kebiasaan baru yang dapat diterima oleh masyarakat dan menjadikannya kebudayaan di daerah ini. Contohnya, seperti merayakan hari-hari keagamaan bersama dan mengadakannya di rumah salah satu penduduk secara bergilir.

About サクラ

People call me Eri, so feel free to call me Eri ^^ よろしく!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: